Stereotip Gen Z Lembek dan Malas, Anugrah atau Bencana?

Minggu, 14 April 2024 | 16:01
GEN-Z MENGKHAWATIRKAN - Angellie Nabilla menejelaskan tentang pembicaraan Gen-Z di media didominasi narasi yang kerap tak masuk akal. -Malaka Project.
Penulis: L Sundana | Editor: AyoBacaNews

DI SINI, saya akan membahas isu yang sangat relevan saat ini, yaitu generasi Z. Generasi ini telah menjadi pusat perhatian dari berbagai media mulai dari sosial media, kanal berita, artikel, hingga televisi. 

Namun, di balik sorotan yang intens, terdapat satu hal yang perlu kita sadari. Menurut penelitian dari McKinsey Health Institute, generasi Z adalah konsumen media terbesar pada abad ini. 

Oleh karena itu, konten yang membahas tentang generasi Z selalu ramai diperbincangkan. Namun, tidak jarang konten-konten ini dipenuhi oleh narasi-narasi yang tidak masuk akal.

Stereotip tentang generasi Z seringkali menggambarkan mereka sebagai individu yang 'chronically online' dan tidak mampu berinteraksi secara langsung. 

Mereka juga sering dianggap sebagai generasi yang manja dan lembek. Namun, stereotip seperti ini sangat jauh dari realitas yang sebenarnya.

Generasi Z tidaklah homogen. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan pekerja buruh. 

Membelenggu mereka dalam stereotip hanya akan melanggengkan kesalahpahaman dan ketidakadilan sosial.

Untuk memahami generasi Z dengan lebih baik, kita perlu memahami karakteristik mendasar mereka. 

Setiap generasi memiliki karakteristik kultural yang dipengaruhi oleh fenomena sosial, politik, dan budaya pada masanya.

Generasi Z, yang lahir antara tahun 1996 hingga 2010, hidup di era di mana informasi sangat mudah diakses. 

Mereka juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk krisis ekonomi, perubahan politik, dan pandemi COVID-19. Banyak dari mereka merasa khawatir akan masa depan ekonomi mereka.

Data dari McKinsey menunjukkan bahwa kekhawatiran ini tidak hanya terjadi di Amerika dan Eropa, tetapi juga di Indonesia. 

Banyak generasi Z yang menganggur dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka harus bekerja keras dengan upah rendah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Stereotip yang menggambarkan generasi Z sebagai anak muda yang malas dan tidak bertanggung jawab hanya akan memperburuk situasi mereka. 

Sebagai masyarakat, kita harus berhenti melanggengkan stereotip berbahaya ini dan mulai memahami realitas yang sesungguhnya.

Pijar Foundation, sebuah lembaga non-pemerintah yang fokus pada pengembangan anak muda, memiliki peran penting dalam membangun masa depan Indonesia. 

Mereka berkomitmen untuk mendukung generasi muda dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman ini melalui pendidikan, inovasi, dan kebijakan publik yang inklusif.

Jadi, mari kita bersama-sama membongkar stereotip dan membangun masa depan yang lebih baik untuk generasi Z dan Indonesia. (*)

Pembicaraan Gen-Z di media didominasi oleh narasi yang kerap tak masuk akal, seolah semua Gen-Z adalah pewaris resmi semua kemajuan yang ada: teknologi, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Padahal, jika kita lebih berani menyentuh rumput, realitanya tentu tak demikian. Di video ini, Angellie Nabilla memperlihatkan bagaimana realitas Gen-Z yang berada di luar narasi berkilauan yang berseliweran.