Memaknai Kembali Kebangkitan Nasional: Menghadapi Tantangan dengan Semangat Perubahan

Senin, 20 Mei 2024 | 09:39
Memaknai Kembali Kebangkitan Nasional: Menghadapi Tantangan dengan Semangat Perubahan
Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Lilis Sulastri.
Penulis: Opini: Lilis Sulastri | Editor: Pipin L H

Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya, tentu saja memiliki makna historis yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia. Peringatan ini berawal dari berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908, yang menjadi awal mula gerakan nasionalisme di Indonesia.

Budi Utomo, sebuah organisasi yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran nasional di kalangan masyarakat Indonesia yang saat itu masih berada di bawah penjajahan Belanda.

Momentum ini menandai bangkitnya semangat persatuan dan kesadaran kebangsaan, yang kemudian menjadi fondasi bagi perjuangan kemerdekaan. Oleh karena itu, Hari Kebangkitan Nasional diperingati sebagai simbol kebangkitan kesadaran nasional dan tekad untuk memperjuangkan kemandirian bangsa.

Budi Utomo, dalam konteks ini merupakan bentuk nyata dari gerakan nasionalisme pertama yang mengusung semangat persatuan dan pendidikan sebagai alat perlawanan terhadap penjajahan.

Budi Utomo mendorong masyarakat Indonesia untuk menyadari pentingnya pendidikan dan kemajuan intelektual dalam membangun bangsa yang mandiri. Spirit inilah yang kemudian mengilhami berdirinya organisasi-organisasi pergerakan lainnya, seperti Sarekat Islam dan Indische Partij, yang bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meski sudah lebih dari satu abad berlalu, semangat kebangkitan yang lahir pada awal abad ke-20 tersebut masih sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Di tengah dinamika globalisasi dan kemajuan teknologi, bangsa Indonesia terus dituntut untuk mampu beradaptasi dan melakukan perubahan yang signifikan.

Tantangan seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, dan kualitas pendidikan yang masih perlu ditingkatkan, menuntut adanya semangat kebangkitan yang baru. Semangat ini harus diwujudkan melalui inovasi, kolaborasi, dan pembaruan di berbagai sektor. Dengan cara itu pula, kita berharap dapat menjawab tantangan zaman sekaligus mempertahankan identitas dan integritas nasional.

Namun demikian, menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2024 ini, kita masih menyaksikan berbagai peristiwa yang seolah menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya bisa bangkit sebagai bangsa.

Aksi demonstrasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memprotes kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebagai contoh, menunjukkan bahwa ada yang mulai melenceng dari pemaknaan semangat awal tentang kebangkitan bangsa yang dicetuskan oleh Budi Utomo dulu. Kebangkitan Nasional seharusnya berkorelasi erat dengan peningkatan layanan pendidikan agar bisa diakses oleh seluruh elemen masyarakat. Akan tetapi ketika komersialisasi pendidikan mengharuskan lembaga-lembaga pendidikan untuk menaikkan ongkos layanan yang harus dibayar oleh masyarakat, maka tentu saja sulit untuk mencapai kebangkitan yang diharapkan tersebut.

Keinginan agar pendidikan tinggi dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali, mencerminkan semangat kebangkitan nasional dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Perjuangan ini sejalan dengan semangat Budi Utomo yang mengedepankan pentingnya pendidikan dalam pembangunan bangsa.

Selain itu, hari-hari ini kita juga terus menghadapi berbagai peristiwa kejahatan yang masih marak terjadi di masyarakat. Kejahatan, dalam berbagai bentuknya, menunjukkan adanya kesadaran etis dan sosial yang masih rendah, yang juga merepresentasikan pentingnya pemaknaan kembali kebangkitan tersebut. Ketimpangan dan kesenjangan sosial juga menjadi isu yang tidak dapat diabaikan.

Ketimpangan dalam akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi masih menjadi tantangan besar bagi bangsa ini. Semangat kebangkitan nasional yang dulu pernah ada, rasanya harus diwujudkan kembali hari ini agar setiap elemen bangsa, memiliki kesamaan harapan untuk mengurangi dan menyelesaikan berbagai persoalan tersebut.

Sebab kita perlu semangat yang sama agar berbagai program yang mendukung inklusi sosial dan ekonomi bisa berjalan. Kita juga perlu kesadaran yang sama agar pemberdayaan masyarakat miskin, pengembangan infrastruktur di daerah terpencil, dan peningkatan kualitas layanan publik dapat menjadi langkah konkret untuk mewujudkan cita-cita kebangkitan yang sesungguhnya.

Memaknai ulang Kebangkitan Nasional dengan kesadaran tentang perubahan menjadi sangat penting dalam konteks ini. Kebangkitan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa bertransformasi untuk masa depan. Kesadaran bahwa perubahan adalah sebuah keharusan dapat menggerakkan kita untuk lebih proaktif dalam mencari solusi inovatif terhadap berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini.

Dengan memaknai kebangkitan melalui lensa perubahan, kita diajak untuk terus berinovasi, beradaptasi, dan berkolaborasi demi menciptakan Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan berdaya saing. Hanya dengan kesadaran ini, kita dapat benar-benar menghargai dan melanjutkan warisan semangat kebangkitan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita.

Perubahan sebagai Katalis Kebangkitan

Menyadari posisi di tengah perubahan sosial dan budaya menjadi salah satu katalis utama dalam upaya pemaknaan kembali kebangkitan nasional ini. Di tengah masyarakat yang semakin dinamis, setiap kita yang hidup hari ini merupakan generasi penerus bangsa yang dituntut untuk memainkan peran penting dalam perubahan tersebut.

Jika di masa lalu, kebangkitan dimunculkan dengan pendirian organisasi untuk menyatukan elemen bangsa, perjuangan mengangkat senjata melawan penjajah, maka upaya yang senada juga harus kita lakukan hari ini. Kita misalnya harus bisa secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Mendorong masyarakat untuk mengikuti program-program pemberdayaan, seperti pelatihan kewirausahaan, pendidikan literasi digital, dan kegiatan lingkungan, juga sangat diperlukan untuk membantu menciptakan masyarakat yang lebih siap atas perubahan. Selain itu, meningkatkan partisipasi dalam organisasi pemuda dan komunitas lokal juga dapat memperkuat jaringan sosial dan mendukung kolaborasi untuk menyelesaikan masalah bersama.

Dalam bidang pendidikan, kita harus mendorong munculnya kebijakan pemerintah yang lebih berpihak untuk akses pendidikan yang lebih merata dan adil untuk semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah. Kita tidak bisa membiarkan globalisasi merusak semangat kebangkitan nasional dulu dengan menjadikan komersialisme pendidikan sebagai alasan untuk semakin menambah kesenjangan akses pendidikan yang sudah ada.

Dalam konteks pendidikan yang lebih praktis, kita juga perlu mengarahkan berbagai praktik pembelajaran yang ada agar lebih inklusif, berbasis teknologi, dan mendorong pada terciptanya generasi yang berdaya saing. Meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas melalui beasiswa, kontrol atas penetapan besaran biaya yang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat, program mentorship, dan inisiatif e-learning, dalam konteks ini dapat membantu generasi didik kita untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Selain itu, memperkuat kurikulum yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan, kewirausahaan, dan keterampilan abad ke-21 akan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dalam bidang ekonomi, apa yang bisa dilakukan dalam rangka pemaknaan kembali semangat kebangkitan nasional tersebut adalah mendorong pemerintah untuk mendukung dan mempromosikan UMKM serta startup lokal. Memberikan pelatihan bisnis, akses permodalan, dan pemasaran digital dapat membantu mereka tumbuh dan bersaing di pasar global.

Dalam kontek ini pula, kita harus bisa mendorong tumbuhnya kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan akademisi dalam menciptakan ekosistem inovasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan keberlanjutan lingkungan. Pemerataan akses dalam bidang pendidikan, layanan sosial, maupun ekonomi, pada akhirnya dapat menjadi basis solutif dalam menghadapi tantangan ketimpangan sosial sebelumnya. Terlebih lagi jika upaya ini ditambah dengan adanya peningkatan upaya penegakan hukum yang adil dan efektif.

Dengan upaya-upaya ini, kita dapat memaknai kembali kebangkitan nasional yang tidak hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi sebagai gerakan nyata menuju Indonesia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Dengan demikian, perubahan dalam berbagai aspek kehidupan–sosial, budaya, teknologi, dan ekonomi–menjadi kunci untuk mencapai kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Kesadaran akan pentingnya perubahan ini harus terus ditanamkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dengan cara itu pula, kita dapat melanjutkan warisan semangat kebangkitan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah dan gemilang. Semangat kebangkitan yang diinisiasi oleh Budi Utomo lebih dari satu abad yang lalu harus menjadi pendorong bagi kita untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dalam setiap langkah perubahan, kita dapat memastikan bahwa setiap kemajuan yang dicapai oleh bangsa ini akan tetap mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kebangkitan nasional bukan hanya sekadar peringatan historis, tetapi juga panggilan bagi kita semua untuk terus berjuang dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Menghadapi tantangan global dan dinamika lokal, kita harus bersatu padu dalam semangat yang sama, yakni semangat untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Dengan menanamkan kesadaran tentang pentingnya perubahan dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapainya, kita dapat memastikan bahwa kebangkitan nasional akan terus relevan dan menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa di masa depan.

Mari kita bersama-sama menyalakan obor kebangkitan dengan semangat inovasi dan kolaborasi, demi terciptanya Indonesia yang adil, makmur, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional.(*)