Lupakan Strategi

Senin, 29 April 2024 | 13:21
Lupakan Strategi
Skuad Timnad Indonesia U-23 selebrasi gol di Piala Asia 2024. -pssi.
Penulis: Penulis Opini Rizki Laelani | Editor: AyoBacaNews

MALAM ini akan menjadi istimewa bagi bangsa kita. Timnas Indonesia siap bertarung di babak semifinal Piala Asia 2024.

Sejarah akan mencatat pemain Indonesia bisa membungkam kritikan tentang sepakbola di tanah air. 

Tentang strategi "apalah itu". Pemain Timnas Indonesia harus bisa bermain, bertarung, dengan semangat Gen-Z Indonesia yang siap bersaing di kancah internasinal.

Banyak Gen-Z tanah air yang menorehkan prestasi. Termasuk di berbagai cabang olahraga. Namun untuk sepakbola, ini saatnya. 

Buat bangga dengan semangat bertarung total. Kalah dan menang urusan belakang. Kritik satu hal wajar yang harus dihadapi. Toh sekarang menang hebat saja sudah dibanjiri kritik. 

Kita mulai kenapa harus bangga dengan kekuatan Timnas Indonesia U-23 saat ini. Kita tahu betapa sulit anak-anak Indonesia bisa bertarung di kancah internasional.

Sekalinya bisa, harus bermodal besar untuk sekadar menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 kemarin. Betul, belum bisa dikatakan membagakan, karena mereka harus dibesarkan untuk membangun masa depan negeri ini.

Langkah sejumlah penguasaha top tanah air turun gunung sangat diacungin jempol. Mereka menghimpun dana untuk Timnas Indonesia.

Maruarar Sirait langsung jadi striker untuk menjebol gawang. Dia sampai menghimpun dana dari para pengusaha hingga menembus Rp23 miliar. Luar biasa. 

Kita lihat jejak Timnas Indonesia. Sangat mudah diakses. Sejarah baru di Piala Asia akan tercatat. 

Pasukan skuad Shin Tae-yong bisa membuahkan hasil.  Pertama kalinya dalam sejarah partisipasi, timnas berhasil lolos ke fase gugur alias babak 16 besar. Tapi ini tembus semifinal.

Sambutan meriah rakyat Indonesia untuk sepak bola Indonesia. Peluang trofi masih ada perjuangan keras, tapi yakin tembus. 

Melihat sejarah, Timnas Indonesia ikut lima turnamen Piala Asia. Pertama Indonesia di tahun 1996, masih belum terlalu lama.

Sejak saat itu, Indonesia lolos ke Piala Asia 2000, Piala Asia 2004, dan Piala Asia 2007 secara beruntun. Sayangnya mereka tidak bisa melangkah lebih jauh, selalu tersingkir di fase gugur.

Tercatat di Piala Asia 1996 nir kemenangan, cuma sanggup sekali menang dan dua kali tumbang.

Di Piala Asia 2000 juga sama. Tanpa kemenangan, lalu sekali seri. Dan lagi-lag dua kali kalah.

Nah, di Piala Asia 2004 agak mending bisa mencatat sekali menang, tanpa hasil imbang dan dua kali kalah.

Piala Asia 2007 juga mencatat satu kali menang, lagi-lagi tanpa imbang, dan dua laga lainnya tumbang.

Memang tahun 2007 Indonesia punya peluang lantaran jadi tuan rumah. Tapi itu tidak cukup mengantar Skuad Garuda melangkah lebih dari dari fase grup.

Dan pada 2011 juga 2015, Indonesia gagal lolos. Sangat akrab dengan kegagalan. Palih pahit pada 2019, di mana Indonesia didiskualifikasi karena hukuman FIFA. Dan bisa berlaga kembali di 2023 dengan masih membanggakan.

Kita bisa tarik kesimpulan jalan Timnas Indonesia meski tak mudah, tapi mulus ke semifina dengan membanggakan.

Tim-tim besar sekelas Korea Selatan saja tumbang secara dramati. Dan kita tunggu kemerihan selanjutnya. Menang kalah adalah pertandingan, tapi membanggakan itu harus. (*)